Memahami Ibu dengan Mengenal Gejala Baby Blues

Memahami Ibu dengan Mengenal Gejala Baby Blues

Posted on

Memahami Ibu dengan Mengenal Gejala Baby Blues

Melahirkan balita serta jadi seseorang bunda ialah salah satu kejadian berarti dalam hidup, yang pastinya mengganti kehidupan Kamu pula. Ini merupakan momen kala air mata serta senyum senang bisa timbul bertepatan, serta terkadang bergantian.

Ya, tidak hirau betapa bersemangatnya Kamu mengurus balita mungil yang diimpikan sepanjang kehamilan, Kamu pula mengalami hormon yang naik- turun, keletihan raga, serta pastinya, sedikit tidur.

Jadi, bukan perihal yang mengherankan bila banyak bunda baru merasa kewalahan sampai tidak menikmati fase baru kehidupannya tidak lama sehabis melahirkan serta hadapi serbuan‘ baby blues’. Tetapi, untuk sebagian bunda, keadaan itu senantiasa terdapat serta jadi lebih kurang baik, tumbuh jadi apa yang diketahui bagaikan tekanan mental pasca persalinan ataupun Postpartum Depression( PPD).

Kenali Gejalanya

Demi menolong para bunda baru menanggulangi tekanan mental pasca persalinan itu, Parentstory mengundang Associate Psychologist dari Ibunda. id, Beta Kurnia Arriza, S. Psi., Meter. Psi., pada siaran Instagram langsung( IG Live) Ask The Experts:

Menguasai Bunda dengan Memahami Postpartum Depression( PPD) sebagian waktu kemudian. PPD ialah salah satu kendala mental sungguh- sungguh yang sering melanda bunda pasca melahirkan serta bisa mempengaruhi sikap dan kesehatan raga bunda baru.

Ask The Experts kali ini dibuka dengan mangulas indikasi dari PPD. Semacam berikut:

Perasaan pilu yang intens, frustrasi, kosong.

Benak yang intens tentang ketakutan, kegagalan, perasaan tidak berdaya serta tidak berharga.

Kerap menangis tanpa karena.

Keletihan raga.

Kesusahan konsentrasi serta kesusahan mengambil keputusan simpel.

Kendala tidur serta kendala makan, sampai mulai timbul keluhan raga.

Kesusahan membangun bonding dengan balita.

Menarik diri dari area.

Kehabisan atensi buat melaksanakan aktivitas yang dahulu disukai.

Timbul benak buat menyakiti diri sendiri.

Pada sebagian bunda baru, bisa jadi tidak menyadari kalau dia hadapi tanda- tanda PPD. Sebab itu, orang- orang terdekat bunda baru dapat menolong buat mengidentifikasi gejalanya. Misalnya, suami, orang tua, adik, kakak, ataupun sahabat.

Triknya, dengan memerhatikan pergantian sikap pada si bunda baru di masa saat sebelum jadi bunda serta membandingkannya dengan masa saat ini, sehabis mempunyai balita.“ Kita enggak ketahui apa yang ia rasakan, apa yang ia pikirkan.

Tetapi, kita dapat memandang apakah ada pergantian sikap dari saat sebelum berbadan dua ataupun kala berbadan dua dengan saat ini sehabis melahirkan?

Perbedaannya gimana? Misalnya, kala ia masih dapat melaksanakan kegiatan tiap hari, ia mulai kesusahan memutuskan ingin makan ataupun tidak.

Setelah itu, kita amati pula gimana ia penuhi kebutuhan dirinya, terpenuhi ataupun tidak? Terpenuhi tidak kebutuhan tidurnya?,” jelas psikolog yang pakar pada bidang keluarga, perkawinan serta pendamping, permasalahan kedekatan, kekerasan raga/ intim, dan psikologi kesehatan ini. Maka dari itu dibutuhkan pilihan susu full cream yang tepat.

Bersumber pada uraian Beta, terdapat sebagian aspek resiko terbentuknya PPD, ialah:

Riwayat tekanan mental tadinya.

Penyalahgunaan obat ataupun alkohol.

Sokongan sosial yang kurang.

Riwayat keluarga.

Peristiwa traumatis.

Permasalahan sepanjang proses.

Jadi Pendengar yang Baik

Apabila bapak ataupun keluarga memandang pergantian sikap pada bunda baru, mulailah dengan menanyakan keadaannya. Namun, jauhi perilaku yang menghakimi serta ataupun berupaya‘ membetulkan’ mental sang bunda. Alasannya, Beta berkata, bisa jadi yang diperlukan oleh bunda baru merupakan didengarkan.“ Bisa jadi suami dapat menanyakan pada istri apa yang sesungguhnya dia rasakan?

Apa yang mengusik pikirannya. Dikala ia menceritakan, dengarkan saja dahulu. Sehabis dia berakhir ceritanya, barulah coba mengambil akhirnya. Misalnya dengan mengatakan:“ Kalian merasa letih banget, ya?”, validasi perasaan ia. Jangan malah bilang,“ Ah, itu hanya perasaan kalian aja”, tegas Beta.

Jikalau suami merasa mencermati saja belum lumayan menolong keadaan istrinya jadi lebih baik, suami bisa melaksanakan perihal lebih dari itu.

Misalnya, menanyakan pada istri, semacam ini:“ Kalian mau saya semacam gimana? Kalian mau saya menolong mencari solusinya, ataupun misalkan kalian perlu waktu sendiri dahulu?

Pengen‘ me- time dahulu’? Anak sama saya dahulu, ya.”– Bagi Beta, ini salah satu wujud sokongan dari suami ke istri, serta pasti hendak mempengaruhi pada kesehatan mental sang bunda baru.