Ongkos Sosial Di Balik Dunia Pendidikan

Posted on

Di sebuah grup media sosial, bercerita seorang ibu yang ngerasa “direndahkan” sama sesama wali murid di grup chat kelas anaknya. Ceritanya, ibu ini pingin banget anak mereka sekolahnya lancar dan dapat akses pendidikan maksimal. Jadi si ibu berjualan online buat nambah tabungan biar anaknya bisa masuk sekolah favorit yang diinginkannya.

Tapi setelah akhirnya anaknya berhasil masuk sekolah favorit itu, si ibu malah ngerasa nggak nyaman di grup kelas para wali murid, soalnya ada saja wali kelas yang sebentar-sebentar ngomong tentang prestasi anak, pesta ulang tahun mewah anaknya, pekerjaan suaminya, dll. Bahkan si ibu jadi cukup stres dan ngerasa agak direndahkan karena dia berjualan online, sementara mama-mama lainnya cukup kipas-kipas aja karena penghasilan keluarganya sudah cukup besar.

Tentu banyak komentar di grup media sosial itu yang menghibur si ibu, “sudahlah bu, jangan terlalu dipikirkan.”, “nggak perlu dimasukkan ke hati.”, dll

Beda lingkungan beda ongkos nya

Tapi di sinilah sebenarnya kita perlu menggaris bawahi, bahwa suka nggak suka, mau nggak mau, tiap lingkungan itu juga ada ongkos sosialnya juga, dalam hal ini adalah sekolah. Dan bukan si anak saja yang harus membayar ongkos sosial itu, tapi juga orang tuanya.

Dengan kata lain, kalau kita tetap memaksakan pingin masuk ke lingkungan yang secara ekonominya jauh di atas ekonomi kita, kita juga harus sedini mungkin menyiapkan mental buat nggak baper. Soalnya bisa saja mereka sebenarnya Cuma ngomongin hal  yang sebenarnya bagi mereka biasa aja, tapi bagi kita, kesannya nih orang sombong amat.

Bagi mereka mungkin liburan ke luar negeri tiap bulan biasa aja, buat kita susahnya minta ampun.

Mereka bisa beliin keluarganya tas gucci, mobil sport, gadget paling mahal dan tetap tajir melintir, kita buat bayar spp aja nunggu jualan online laku dulu.

ini juga sebenarnya hal-hal yang mungkin sehari-hari dihadapi para anak di luar kemampuan ekonomi mereka, yang harus bersekolah di tempat yang sama dengan mereka. Orang tuanya bisa lebih cuek, tapi para anak yang harus menghadapi kenyataan itu setiap hari, kita tiap minggu palingan Cuma ajakin mereka makan di mall sebelah, ortu teman-teman mereka akhir minggu cerita jalan-jalan ke Perancis,masuk akal kan si anak malah yang baper.

Karena hal itu, maka alangkah baiknya ongkos sosial itu juga dipikirkan masak-masak ketika kita memutuskan anak kita bersekolah di sekolah yang lingkungan sosialnya seperti itu, bukan saja bagi si anak, tapi juga bagi para orang tua.  Pertimbangkan juga asumsi  nominal tingkat ekonomi siswa lain di sana, dan putuskan apakah siap struggling nantinya jika saja tingkat ekonomi keluarga siswa lainnya berada di atas kita.

Ongkos sosial itu kenyataannya tetap ada

Karena pasti sekolah itu bukan Cuma masalah bayar spp, uang gedung, atau uang buku saja, tapi bakalan ada biaya jalan-jalan bersama teman kelas, studi wisata, dan hal lain yang pastinya membuat kita membayar lebih.

Kalau di bootb.com sih bisa dapatkan akses info pengetahuan gratis

Belum lagi ditambah beban tersendiri bagi para orang tua yang harus  interaksi juga dengan para orang tua lainnya, yang bakalan bikin minder kalau nggak siap mental. Pasti ada ajakan kumpul bareng antara orang tua siswa di restoran mahal, yang harus pakai baju dengan dresscode sama merk tertentu, bikin kelompok arisan yang biaya urunannya sama dengan uang belanja tiga bulan, atau ajakan liburan ke luar negeri bareng. Kalau nggak ikut, bisa-bisa orang tua si anak yang baper juga dan merasa dikucilkan, tapi kalau mau ikut jelas memaksakan kemampuan ekonomi si orang tua.

Jadi sebenarnya memilih sekolah yang biasa-biasa saja juga sebenarnya nggak apa-apa jika kita memilih dengan baik dan kita merasa aman dan nyaman dengan itu. Karena menyekolahkan anak dengan fasilitas bagus dan mentereng pun kalau biaya masuknya aja udah di atas kemampuan ekonomi dan pasti ongkos sosialnya juga besar ya nggak perlu memaksakan diri juga jika tidak yakin akan sanggup mengikuti. Karena takutnya malah jadi kepikiran hal-hal yang bukan tujuan awal bersekolah, yaitu menuntut ilmu, dan mumet dan baperan sendiri tiap hari karena ongkos sosial yang mahal.  Dan terbawa jadi orang yang kufur nikmat. Naudzubillah.